19.4.15

GTF

Mengingat banyak sekali dokumentasi perjalanan menumpuk di dalam hard disk, saya luangkan untuk menghapus yang tidak diperlukan dan mengunggah yang dirasa bisa menularkan kebahagiaan.

Georgetown, sebelas dua belas penampilannya dengan Kota Tua Jakarta namun versi lebih penuh warna. Saya berkesempatan ke tempat ini untuk mengikuti acara tahunan Georgetown Festival (GTF) tahun lalu bersama beberapa pekerja seni dari Jakarta. Kami membuat pop-up shop di bawah nama Jakarta House (JH) yang dipelopori Mbak Anthy Hogestijn, pemilik Atreyu Lifestyle. Festival seni ini berlangsung satu bulan penuh dengan titik-titik pertunjukan tersebar di Georgetown. Bayangkan satu kota mendadak ramai pengunjung dan penuh petunjukkan seni selama satu bulan! Tidak ingin pulang!

 Ini dia tempat Tim JH menginap. Strait Collection Residence.
Kulit luarnya mengerikan ya?

Dan.. ini dalamnya! 
Di balik pintu hijau a la warteg tadi langsung kamar tidur (foto kanan)
dan di lantai dua ada satu kamar lagi (foto kiri).

Sebelum cerita lebih jauh soal GTF, tim JH, atau pop-up shop yang kami buat, saya ceritakan sedikit tentang tempat dimana GTF berlangsung. Saya suka sekali dengan detail, otomatis saya tertarik dengan gang-gang sempit, papan nama toko yang lucu, atau hal-hal kecil lainnya di tempat ini.

Georgetown terkenal dengan bermacam signage, plang, tulisan,
apapun itu istilahnya, yang menarik secara visual.

 Toko di dekat penginapan ini menjual kue-kue basah.

Dekorasinya seru!

Saya mampir untuk mencoba kue basah disini. Rasanya mirip dengan kue Indonesia.
Ya namanya juga cita rasa serumpun.

 Yang ini (katanya) tempat gaulnya anak muda: Mugshot.
Tempatnya menyambung dengan toko roti Rainforest.

Sama seperti tempat saya menginap, 
Mugshot ada di dalam tipikal bangunan tua yang 'didandani'.

 Karena saya tidak minum kopi, yoghurt buah kiwi jadi pilihan
untuk menutup sarapan roti isi salmon.

Tipikal kafe mungil dengan tampilan imut ada dimana-mana.
Manusia impulsif dilarang beredar di area ini. Bahaya :D

Namo amitabha. Buddha is everywhere, even (as sticker) on my backseat.
Saya yang sedang belajar Buddhism ini serasa ditemani Buddha disana.

Lorong-lorong yang sarat isi: ada kuil kecil dan bengkel furniture.
Tersesat pun jadi menyenangkan. 

 Bisa tidur siang di perempatan ramai seperti ini merupakan
indikasi bahwa tempat ini nyaman bagi warganya.

Salah satu becak yang 'didandani'. Mejeng sebelum tempur.

Saat itu ada sekelompok wisatawan dengan seragam mencolok.
Sangat menambah kemeriahan kota.

Saya ingat betul keberangkatan saat itu penuh was-was karena tidak lama setelah beli tiket Malaysia Airlines (MA), kecelakaan MA yang kedua kalinya terjadi. Bahkan mayoritas tim JH pilih Air Asia. Ya rencana Tuhan siapa yang tahu, toh saya dapat langit yang cerah dan bulan yang indah selama perjalanan.

Sendirian di perjalanan itu membuat kelima indera jadi super tajam.
Istilahnya adalah sentimentil XD

Kukis gratisan dari MA ini lucu sekali kemasannya.
Bergambar peri hutan (mori=hutan dalam bahasa jepang)
dilengkapi puisi yang.. duh, seperti mantra dari dunia lain!

Cerita mengenai pop-up shop untuk GTF akan saya tampilkan menyusul. Sambil beberes isi hard disk :)

No comments: