25.9.14

Pemberontakan, Kudeta, atau Revolusi? -Karimun Jawa 2009

Berlebihan ya pemilihan judulnya, namun itulah yang terjadi di tahun terakhir kuliah saya, pemberontakan terhadap Ibu saya sendiri. Sejak kecil saya ini anak rumahan. Anteng, kutu buku, tidak pernah main sampai baju kotor, apalagi pulang terlambat, bahkan jatuh dengan luka di badan.

Di suatu masa tenang, saya nekat ikut Reef Check Karimun Jawa, acara tahunan Marine Diving Club Universitas Diponegoro. Lho acaranya positif kan? Kenapa perlu kenekatan? Haha jelas karena saya tidak bisa berenang! Ibu saya marah besar karena tiba-tiba saya menelepon meminta izin sementara saya sudah ada di stasiun, siap naik kereta menuju Semarang. Alhasil naik kereta sambil mata bengkak. Sepanjang perjalanan isi hati tidak karuan (walau kenyataannya sampai lokasi langsung senang-senang haha!).

Selamat datang! Naik kapal, lepas sandal, leyeh-leyeh!

Para peserta pastinya dapat seragam.
Logo diver di lengan kanan buat keki, soalnya saya jadi-jadian.

Salah satu kapal yang dipakai selama disana,
dengan fitur tambahan tempat bobok siang di dalam.

Ini kali pertama saya berenang di tengah laut, loncat dari kapal, tanpa pelampung, di atas gugusan terumbu karang yang cantik. Saya percaya saja dengan orang-orang yang bilang kalau berenang di laut jauh lebih mudah dari di kolam renang. Kenyatannya memang begitu sih, apalagi dibantu kaki katak. Tidak perlu yang namanya pelampung! Lagipula di sekitar saya banyak yang akan menolong kalau saya kenapa-kenapa (polos dan bodoh memang beda tipis).

Looking at the same sky, wishing on the same stars,
and swimming on the same sea!

Oh ya kembali ke perihal kudeta, pesan moral untuk diingat baik-baik adalah restu orangtua itu restu Tuhan. Berhasil membuat Ibu saya resah, rasanya Tuhan kurang 'melancarkan' acara saya ini.

1. Dari tiga hari melaut, cuma hari pertama saya bisa ikut turun ke air. Ya ya diluar dugaan 'datanglah si bulan'. Dua hari di tengah laut itu saya cuma (sok) sibuk foto-foto. Mati gaya! Lama peserta turun ke laut biasanya sekitar satu sampai dua jam per spot. Sementara dalam satu hari bisa pergi ke dua sampai tiga spot penyelaman. Kebayang kan jenuhnya?

Diver sejati super sibuk. 
Melakukan pengamatan & pendataan biota laut setempat.

11-12 seperti anak itu. Karena jobless, saya hanya geletakan di deck.
Mau manusia, mau barang, siapa saja, di mana saja, silakan geletakan.

2. Di hari ketiga melaut, badai datang! Pertama kalinya saya mengalami badai di tengah laut, di dalam kapal kecil pula! Ombak tinggi, langit gelap, hujan deras turun. Acara penyelaman otomatis dihentikan. Saya ingat betul teman-teman yang masih di dalam air ditarik dengan tali ke permukaan karena terbawa ombak. Jangkar diturunkan sementara kapal dalam keadaan 'terparkir' terombang ambing ke segala arah selama beberapa jam. Semua penumpang terdiam dalam udara dingin campur rasa lapar campur bau m**tah. Maklum karena kapal yang saya naiki kapal kecil, rasa diayun-ayunnya sangat 'menghanyutkan'. Korban (mabuk laut) pun berguguran.

JASA LAUT. Jasamu memang luar bi(n)asa!

3. Dapat oleh-oleh kulit hitam, bahkan terhitam dalam sejarah kehidupan saya. Paling ekstrim itu ada di ujung hidung. Saat mengelupas, kulit yang baru warnanya putih. Efeknya sungguh tragis seperti panu di wajah XD Dan legamnya kulit ini baru hilang setelah beberapa bulan.

Selamat! Berhasil mengalahkan Nicky Minaj, kalah telak!

Saya tidak pernah cerita soal 'sentilan' dari Tuhan ini ke Ibu saya. Cukup saya yang tahu (biar gak malu juga sih). Kemungkinan besar nanti akan saya ceritakan ke anak saya agar dia tidak seperti saya-bisa berenang maksudnya-dan sekali lagi, pesan moralnya adalah restu Orangtua itu restu Tuhan.

Tulisan di balik dinding ruang kemudi yang selalu silau:
Ya Allah, lindungilah sepanjang pelayaran kami. Amin.

1 comment:

hersentot said...

dika si anak nekat :p tapi laut emang cantik banget sih, sulit ditolak