20.9.14

The Power of Strangers

Pernah merasa sangat sangat sangat butuh untuk curhat tapi merasa orang-orang terdekat seperti sahabat bukanlah tempat yang tepat? Saat dimana kamu begitu dewasa, bijak, kuat, mampu menguasai diri sehingga segan untuk berkeluh kesah tapi memendamnya hanya akan membuat hari-hari makin kelabu.

Saran dari saya, mungkin kamu butuh 'orang asing' :)

Saat menjalani salah satu fase buruk yang pernah ada (semoga tidak terjadi lagi, amiiin!) entah ya, tidak seperti biasanya, waktu itu sulit sekali untuk menangis. Saya sadar saya kecewa, tenggelam dalam kemurkaan, benci segala sesuatu yang saya miliki juga yang tidak saya miliki, namun saya tidak berhasil untuk mengekspresikan itu semua dengan sewajarnya. Saya berharap dapat berlari ke arah sahabat-sahabat saya, berteriak keras, mungkin menyebut daftar panjang anggota keluarga kerajaan animalia, atau menangis meraung-raung di dalam pelukan mereka. Kenyataannya saya malah tertawa, menertawai fase tidak menyenangkan itu, lalu menghela napas layaknya orangtua mengingat kenakalan masa kecil anaknya yang sudah dewasa.

Sebagai manusia normal, saya butuh kantong muntah untuk rasa mual yang sedang saya tahan ini. Dan saya mendapatkan kantong tersebut di waktu yang tidak terduga. Orang asing itu datang seperti utusan Sang Pencipta untuk menyerahkan 'kantong muntah' tadi. Orang asing itu seorang supir taksi.


Saya tidak nyaman diajak ngobrol oleh orang asing di tempat yang ramai, rasanya bubble space saya terusik. Tapi lain halnya kalau di tempat tersebut hanya ada kami berdua-saya sendirian dan orang asing itu sendirian. Aneh memang, tapi otomatis bubble space saya pecah untuk mempersilakan manusia lain yang sendirian tersebut mendekat :)

Hari itu saya naik taksi menuju bandara, waktu yang cukup panjang untuk bertukar pikiran karena bandara Soetta rasanya seperti ada di ujung pulau Jawa. Diawali dengan obrolan ringan seputar pekerjaan (karena saya naik taksi dari kantor), mau kemana naik pesawat (karena tujuan taksinya ke bandara), sampai masa lalu Jakarta (karena hari itu Jakarta terasa begitu luas dan tidak ada habisnya). Dari topik tersebut, pembicaraannya semakin akrab dan menyentuh area privat :D Pak supir bercerita tentang dirinya, blak-blakan, masa-masa gelap yang pernah dia lalui, masa-masa hidup tak mampu mati pun segan. Melihat orang yang ada di dekat saya dengan anggun meruntuhkan blokade sekelilingnya, saya pun melunak, melakukan hal yang sama, perisai yang saya pegang erat sejak lama saya letakkan di tanah.

Samar-samar saya ingat, pak supir bilang, 'jangan ragu untuk bercerita, toh kita sama-sama tidak kenal, mungkin ini akan jadi pertemuan yang pertama dan terakhir, tidak akan ada yang dirugikan dalam hal berbagi tentang kehidupan'. Benar juga, berpuluh-puluh kali naik taksi, atau mungkin sudah lebih dari seratus kali, belum pernah saya temui supir yang sama. Saya pun berani menceritakan hal buruk yang saya alami. Saya pun berhasil menangis :) Oooh untungnya wajah kami tidak berhadapan jadi saya menangis dengan suka cita.


Dari pak supir, saya dapat banyak hadiah. Segala nasihat, anjuran, semangat, angin segar, semuanya saya syukuri. Turun dari taksi, mata sembab parah tapi hati penuh semangat! Sambil berjalan ke dalam bandara, saya bertanya-tanya, momen yang barusan saya lalui itu terasa seperti mimpi singkat. Apa supir taksi tadi benar-benar 'ada' ya? Semoga pak supir dimanapun dia berada selalu dilancarkan urusannya. Sejak itu, saya senaaaaaang sekali kalau naik taksi yang supirnya 'murah berbagi' :) Seru! Seperti isi buku Taxi Driver Wisdom atau Black Cab Wisdom. Penuh quote yang bisa membuat tersenyum simpul atau manggut manggut sendiri. Bedanya, isi TDW dikumpulkan oleh penumpang atas kata-kata mutiara yang didapatnya dari para filsuf jalanan-supir taksi, sementara isi BCW dikumpulkan oleh seorang supir taksi atas kata-kata mutiara yang dia tanyakan pada penumpang mobilnya.


Oh ya.. Sedikit terbersit dalam pikiran, mungkin ini alasan mengapa ada yang menyukai one night stand. Kamu merasa mendapat hak istimewa untuk tidak harus menjadi diri sendiri. Bebas dari belenggu. Haha!

No comments: