25.5.14

Manis di Bibir

Pasti reflek melanjutkan judul di atas dengan "..memutar kata", iya kan? Haha baiklah baiklah kali ini saya ingin bercerita sedikit tentang indahnya berinteraksi.

Hidup sebagai makhluk sosial, tumbuh di kota besar yang padat penduduk, bergelut di bidang jasa dan pelayanan, ketiganya sering membawa saya ke fase terluka karena orang lain, fase sakit hati. Tidak jarang saya menelan ludah dan senyum pahit kalau mendapati kata-kata pedas dari orang lain. Dan karena tahu sudut pandang saya di adegan itu tidaklah enak, saya selalu ingat untuk tidak memposisikan orang lain untuk berdiri di 'sepatu' saya. Walaupun orang itu jelas-jelas salah. Toh saya juga kurang berbakat untuk marah-marah.

We must always speak sweet words with full of praises for others. Mentally we must cultivate compassion and loving kindness to all - Geshe Tenzin Zopa.

Saya pernah naik angkot dimana supirnya punya tata bahasa luar biasa indah. Ketika ada penumpang yang duduk di kursi selebriti (kursi tambahan yang menghadap ke belakang-red.) dia mengingatkan, 'mbak, masuk ke dalam aja, supaya semuanya terlihat lebih indah'. Saya yang duduk di belakang supir otomatis senyum lebar mendengar kalimatnya. Setiap ada penumpang yang turun dan membayar, dia selalu mengucapkan terimakasih. Lalu saat saya hendak turun dari angkot, saya yang plegmatis ini ditanya oleh si supir, 'mau turun sekarang juga disini atau nanti di depan?'. Saya jawab yang mana saja tidak masalah. Supirnya lagi-lagi jadi penyair dadakan, 'yang mana saja yang penting lebih indah ya? oke di depan saja'. Saya tidak bisa menahan tawa detik itu juga. Puji Tuhan!

© junaida

Anda boleh punya strata tinggi dalam pendidikan, Anda boleh punya kekayaan lebih di kehidupan, Anda boleh punya masa depan yang cerah dan menjanjikan, tapi saya rasa manusia seperti supir angkot ini akan dikelilingi lebih banyak cinta kasih dibandingkan dengan manusia yang memiliki aspek lain tadi-setidaknya dalam penilaian saya. Saya lebih memilih berada di dekat orang 'bawah' yang penuh kelembutan dibanding orang 'atas' yang penuh kemakmuran namun arogan.

Too often we are underestimate the power of a touch, a smile, a kind word, a listening ear, an honest compliment, or the smallest act of caring, all of which have the potential to turn a life around - Leo Buscaglia.

Setuju sangat! Saya pernah naik MRT di jam berangkat kerja yang mana selama perjalanan semakin penuh sesak. Posisi berdiri saya awalnya memang kurang bagus karena bawa tas besar. Dan posisi itu semakin lama semakin tidak karuan karena saya tidak sempat memperbaikinya. Setiap pemberhentian saya oleng terus. Sampai akhirnya ada seorang Ibu yang menawarkan untuk berpegangan ke dia. 'It's fine, just hold on tight', katanya sambil mengulurkan lengannya. Seperti adegan gentleman menawarkan lengannya untuk diapit seorang lady. Sepanjang perjalanan, saya pun kikuk berpegangan di lengan Ibu tadi.

© junaida

Kalau sudah mengalami kejadian seperti ini hati saya langsung sibuk berdoa. Semoga, semoga, semoga, orang-orang ini selalu dalam lindungan Tuhan :) Amiin. Saya yakin, keseharian kita yang sering berpapasan dengan orang asing ini membuat kita bersinggungan dengan mereka. Interaksi yang dihasilkan bisa positif bisa juga tidak. Ini pilihan. Saya berharap setiap orang yang saya temui tidak ada yang ngedumel gara-gara saya :p Mohon saling mengingatkan, tentunya mengingatkan dengan tutur kata yang manis.

No comments: